Wednesday, December 17, 2014

Speech delay.. part 2

Part 1 bisa dibaca disini

Another long post with no picture.

Jadwal selanjutnya adalah assesment. Kebetulan dapet jadwal buat assesment terapi wicara lebih dulu. Assesment ini ya sebenernya lebih kaya wawancara dan memantau lebih lama dan mendalam yang dilakukan langsung oleh terapis.

Assesment dilakukan di ruangan yang lebih mini lagi, mungkin setengahnya dari ruangan konsul kemarin. Di dalam ruangan hanya ada satu meja persegi kecil (seukuran meja anak), 2 bangku berhadapan untuk si terapis dan si anak, 2 bangku untuk pendamping, 1 lemari plastik susun tempat taruh barang-barang dan mainan. Oiya, di satu sisi ruangan ada cermin panjang.

K langsung disuruh duduk di kursi anak. Kursi anak ini mungkin didesain sedemikian rupa jadi antara kursi dan meja ga ada ruang untuk anak keluar-keluar. Tentu saja K ga betah. Baru beberapa detik duduk disitu udah minta keluar. Tapi sama terapisnya coba dialihkan dengan memberi dia mainan. Berhasil sih...tapi cuma sebentar. Lagi-lagi K minta 'dibebaskan'. Terapisnya untung mengerti dengan bilang "merasa terkurung ya...yasudah boleh keluar deh".

Setelah 'dibebaskan' K lebih lepas. Diapun bisa langsung heboh sama si terapis. Seperti heboh sama orang rumah. Hebohnya ya teriak 'waaaaa.....' sambil senyum lebar gitu. Terapisnya pun ikutan respon dengan heboh balik. Katanya kalau anaknya heboh, kita harus lebih heboh. *lap keringet dulu yok*

Mainan-mainan yang diberikan setipe ama waktu konsul kemarin, cuma ya ga 100% sama. Sekitaran puzzle, figurine binatang, blocks. Yang pertama dikeluarin itu figurine binatang. Ada macan, anjing, kucing tapi diselipin bebek karet dan K ditanya bebeknya mana ya. Ajaibnya K megang si bebek. Hahahaha. Tapi gue yakin itu kebetulan semata. *mama yang ga pede anaknya beneran tau kalau itu bebek*.

Lalu dikasih bola yang bunyi kalau dipencet. Ini kayanya untuk tes pendengaran karena terapisnya awalnya ga kasih liat bolanya. Tapi dibunyi-bunyiin, K pun langsung diem dan kaya bingung nyari sumber bunyinya. Beberapa kali seperti itu kemudian terapisnya bilang pendengarannya bagus.

Lalu ada mainan peluit gitu yang kalau ditiup ada kicirnya didepan yang muter. Ada dua, satu terapisnya yang tiup dan satu lagi harusnya K yang ikutan tiup. Tapi dia nya malah bengong aja. K memang belum bisa tiup jadinya ya dia ga tau harus gimana.

Lupa dikasih mainan apa lagi.

Kalau pertanyaan-pertanyaannya kurang lebih sama seperti konsul kemarin tapi kali ini lebih detail. Misalnya soal K masih ileran, ditanya sama terapisnya biasanya ilerannya di sebelah kanan, tengah atau kiri. Errrrr......
Hayo buibu, kalau ditanya begitu ada ga yang selama ini merhatiin anaknya ileran sebelah mana. Kalau gue ileran ya ileran, gue ga perhatiin ileran sebelah mana. Tapi kebetulan hari itu gue merasa K ileran sebelah kanan terus jadilah gue jawab kayanya kanan. Dan terapisnya juga bilang iya lebih ke kanan. Bodohnyaaa gue ga tanya apa bedanya ileran kanan kiri atau tengah. Saking dumbstruck-nya sama pertanyaan simpel nan membingungkan seperti itu.

Terus ditanya kalau disuruh K bisa melakukan ga? Errrrr.... disuruh apa yaa..
Jujur selama ini kayanya gue ga pernah sengaja menyuruh K ini itu. Ya paling nyuruh beresin mainan. Masukkin ke tempatnya. Tapi ya sekedar nyuruh. Dilakukan bagus, ga dilakukan ya gue yang beresin. Ga pernah yang nyuruh K buang sampah, ambil baju, ambil sepatu, dll.

Lalu ditengah sesi terapisnya memperhatikan sesuatu. Bahwa K masih gonta ganti tangan kanan dan kiri kalau melakukan sesuatu. Ga fokus ke satu tangan. Ternyata terapisnya bilang harus dilatih fokus menggunakan satu tangan. Entah kanan atau kiri itu pilihan masing-masing. Kenapa? Karena kalau penggunaan tangan masih gonta ganti kanan dan kiri, pusat bahasa di otaknya susah terbentuk. Alias ikutan bingung. Jadi di otak sudah penuh dengan kosa kata tapi mulutnya ga bisa mengucapkan.

Pengetahuan ini yang paling bikin gue DEG! di hati. Gue ga pernah baca dan dengar sama sekali soal ini. Gue yakin sebagian besar buibu juga pasti mikir anak masih piyik biarlah tangan kanan kiri ntar juga ada masanya baru ketauan dia bertangan kanan atau kidal. Bener ga ?!?!?!
Paling ya kita cuma sekedar ngomong kalau apa-apa pakai tangan manis. Iya kan iya kan ?!?!?!

Ternyata hal kaya beginipun harus dilatih. Mau dikasihtau cara ngelatihnya gimana? Kasih tau ga yaaaaa??? *minta digaplok*
Ga ada cara spesifik gimana kok, semudah membiasakan kasih barang ke arah tangan kanan (kalau prefer anak pakai tangan kanan) anak supaya dia ambilnya juga pakai tangan kanan. Kalau masih biasa pakai tangan kiri ya mau ga mau tangan kirinya diapain kek (dipegangin atau dibikin sibuk pegang yang lain) supaya tangan kanannya yang respon.
Lalu kalau merasa anaknya sudah biasa pakai tangan kanan, cara ngeceknya kalau kasih barang ke arah tengah. Liat anaknya respon pakai tangan apa.

Ngunyah, nyedot, niup tetep ditanya. Ternyata hal-hal ini penting dalam hal kemampuan bicara karena menyangkut otot mulut. Jadi wahai buibu yang anaknya masih biasa pake dot atau sippy cup, segeralah latih anak pakai sedotan (sesuai umurnya ya. Kalau masih 6 bulan ya masih oke lah). Ini kesalahan gue yang lainnya, terlalu keasikan kasih minum pakai dot sampai 1 tahun lebih.

Untuk niup, disarankan gue untuk coba pakai sedotan dan bikin gelembung. Biasanya anak akan coba meniru. Cara ini lebih gampang daripada minta anak untuk niup tissue atau peluit. Udah coba gue praktekkin sih tapi K malah nyedot aja, ga niup. Belom bisa kali ya. Harus dicoba terus.

Lalu penggunaan bahasa di rumah. Yang ini sebenernya bisa jadi bukan masalah di rumah gue, toh sehari-hari K selalu diajak ngomong bahasa Indonesia. Tapi jadi masalah karena K kebiasaan dikasih nonton yang bahasanya bukan bahasa Indonesia. Baik dari tv maupun dari gadget (youtube).
Ya abis gimana donk acara anak-anak yang bagus semuanya bahasa Inggris. Kalau mau cari alesan sih kondisi gue yang jaga anak sendirian membuat TV jadi alat andalan supaya anak diem dan gue bisa ngerjain hal lain. Terlebih pas 7 bulan gue hamidun lagi membuat kondisi fisik ga memadai untuk nemenin anak beraktifitas sepanjang hari.  Tapi sekarang insaf, sejak konsul kemarin itu gue langsung ga nyalain TV dan ga ngasih gadget sama sekali. Anaknya pun ga minta kalau ga ada trigger (liat remote TV atau liat gadget nangkring, jadi semua diumpetin). Seharian main aja apapun yang bisa dimaenin. Kalau I lagi tidur ya gue temenin, kalau I harus diurus ya K mau ga mau main sendiri. Kalau anteng ya begitu, kalau lagi cranky maunya ditemenin ya mau ga mau panggil mbak.

Terapisnya bilang jangan mengharapkan anak langsung bisa mengucapkan satu kata utuh dan jelas. Harus perhatiin lebih detail perubahan-perubahan yang mungkin ada. Walaupun anak respon baru dengan gerakan atau masih dengan gumaman tapi beda intonasi atau beda bunyi, gapapa. Itu kemajuan dan harus diapresiasi *tepuk tangan*. Kita pun stimulasi awal yang mudah-mudah dulu. Ajari mengangguk tanda mau, menggeleng tanda ga mau, menunjuk dan lain-lain. Latih berucap aaaaaaaa sambil angkat tangan tinggi-tinggi, uuuuuuuu dengan angkat kaki supaya dia tau perbedaan A dengan U. Yang simpel-simpel (namun tak gue mengerti sebelumnya) kaya gitu dulu aja untuk awal.

Biasakan jangan langsung kasih anak apa yang dia mau. K kan kalau mau apa-apa tuh narik tangan kita ke dekat benda yang dia mau. Katanya sebaiknya kita tunjuk bendanya, sebut nama bendanya, tanya 'kamu mau ini? Mau?' Sambil manggut. Tunggu anaknya respon manggut atau bilang mau baru kita kasih. Yatapi praktek tak semudah teori. So far prakteknya K langsung marah teriak kalau permintaannya ga segera dituruti. Boro-boro nunggu dia manggut, baru nunjuk barangnya nanya kamu mau aja dia udah teriak duluan.

Dan gue disuruh nyuruh-nyuruh. Apapun itu. Sekalian ngelatih pakai tangan kanannya juga deh. Tapi ya lagi-lagi ini PR banget buat gue ke anak sekeras K. Disuruh ambil baju, udah dicontohin ambil baju terus kasih ke tangan gue, tapi abis itu anaknya ngeloyor pergi. Sing sabar sing sabar. Demi anak.

Oiya, ada ditanya soal sikat gigi. INI DIAAAA.. K sama sekali ogah sikat gigi. Mingkem maksimum apapun caranya. Jangan tanya udah berapa lama ga sikat gigi, gue pun merasa jorok tapi harus gimana? Beneran ga bisa. Terapisnya pun berpendapat berarti rongga mulutnya sensitif. Nanti kalau mulai terapi gue diminta bawa sikat gusi yang karet dan ada bintil-bintilnya itu. Bawa apapun yang teksturnya lembek dan K doyan. Pisang kah, madu kah, coklat kah terserah. Baby oil dan handuk kecil. Kayanya sih mau untuk oral motor nya.

Apalagi ya. Oiya ditanya soal lahiran. Normal apa cesar, langsung nangis atau ngga, kuning ngga, pernah jatuh ngga, pernah kejang ngga, dll. Tapi lagi-lagi gue ga tanya lebih jauh apa hubungannya.

Selesai assesment, atur jadwal terapi rutin. Tadinya disuruh 2x seminggu. Tapi gue minta 1x seminggu aja karena keterbatasan waktu dan tenaga. Kalau ga ada I mungkin bisa gue jabanin tapi ada I, ga mungkin juga I gue titip nyokap tiap minggu dan suami ijin tiap minggu. Nyokap dan suami kan juga ada kerjaan.

Cerita soal terapinya di part 3 ya..

10 comments:

  1. gw masukin anak2 ke sekolah waktu umur 20 bulan dan mereka belajar ngomong disana heheee..

    semoga terapinya lancar :)

    ReplyDelete
  2. Naaaa makasih ya nulis ini dengan detail. Ada hal2 yang bikin gw ngeh harus ajarin Raka segera. Terutama soal tangan kanan kiri dan soal manggut2 geleng2 itu.

    ReplyDelete
  3. Aina... ponakan suami gue jg kena speech delay sampe umur 4 tahun baru therapy. Sekarang udah umur 6 tahun udah lancar banget bicaranya. Dan yg ditegaskan banget sama therapistnya adalah bahwa ibunya memang yg pny peranan penting. Ibu yg harus terus ngajak anaknya ngobrol. Interaksi terus, tanya terus, ajak nyanyi, bacain cerita dll. Semoga Kenny bisa segera lancar ya ngomongnya.

    ReplyDelete
  4. Na kalo soal nipu, pernah kasih Kenny liat orang tiup lilin pas ultah gak? Biasa anak anak suka dan jd pengen tiup lilin. Trus diajak main pura pura ultah, ada cake nya ama lilin pura pura trus kita nyanyian dan suruh dia tiup lilin.

    ReplyDelete
  5. Jadi dapet ilmu :) Makasih sharingnya Aina :)

    ReplyDelete
  6. huahhhh.... jadi khawatir ama Zio dirumah hiks~

    ReplyDelete
  7. jadi banyak belajar nih... keep sharing ya... semoga terapinya berhasil ya...

    ReplyDelete
  8. Semangat ya... Kebayang banget anak masih kecil, uda hamil dan harus ngerawat 2 anak sekaligus yang masih kecil2. Tantangan banget pastinya. Boro2 mau ajak main ya, dapet tidur aja syukur. Untung mamanya uda mau cari tahu dari anak belum umur 2 tahun. Jadi bisa segera ditindak lanjuti. semangatt... *HUG

    ReplyDelete
  9. Hi Aina salam.kenal ya...
    sangat menghargai ortu yg ga denial seperti kamu. Bagus kalo.cepat2 cari tau... jadi lebih mudah ditanganinya..
    memang tv dan gadget itu komunikasi satu arah...lebi baik dikurangi.semoga lancar semua prosesnya..

    ReplyDelete
  10. Na, pengetahuan bangus bgt nih buat gw yg belum punya anak. Btw, gw ijin share ke temen sebelah kubikel bisa kan Na? kebeneran dia punya anak bayi seumuran Ian.. :D

    ReplyDelete

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP