Tuesday, December 16, 2014

Speech Delay .. part 1

Di usia K yang sudah 21 bulan, yang seumumnya (dan atau seharusnya) sudah bisa mengucapkan beberapa kosa kata, K belum juga bisa mengucapkan kata-kata berarti. Semuanya masih bahasa eeeng eeeng eeenng, huaaaaaa (nangis), aaarrrrrkkk (teriak), dan bahasa planet. Keinginan gue buat bawa K ke klinik tumbuh kembang juga maju mundur maju mundur karena di satu sisi gue penasaran apa dia sekedar telat bicara atau ada faktor lain dan ingin tahu secepatnya, tapi di sisi lain gue ragu apa gue yang terlalu khawatir karena dari segi umur K belum 2 tahun dan suami pun rasanya masih ga khawatir.

Tapi setelah ngobrol sama seorang sepupu yang lebih pengalaman yang bilang gapapa kalau mau cari tau sekarang karena kalau memang ada apa-apa penanganannya juga bisa lebih dini, plus suami yang kasih lampu hijau setelah disodori artikel ini, akhirnya gue memantapkan diri untuk menghubungi klinik tumbuh kembang.

Eh ternyata oh ternyata, mendaftarkan anak ke klinik tumbuh kembang incaran ga semudah daftar ke dokter anak biasa (nama kliniknya apa sengaja ga gue tulis, kalau ada yang mau infonya boleh japri langsung ya). Kirain telepon hari ini bisa dapat jadwal besok atau lusa, ternyata malah kitanya yang disuruh nunggu ditelepon balik kalau sudah dapat giliran. Anehnya, pertama kali telepon gue malah disuruh ke cabang yang lain karena di cabang yang gue mau harus nunggu sampai lewat tahun baru. Tapi untungnya gue telepon lagi dan kali ini cuma disuruh ninggalin data dan nunggu dihubungi balik.

Kemudian kira-kira 2 minggu, gue dihubungi balik dan dapet jadwal untuk konsul sama tim dokter BESOKANNYA. Buru-buru japri suami buat tanya bisa ikut anter apa ngga, japri nyokap bisa titip I apa ngga, dll. Udah oke semua, besokan paginya ditelepon lagi sama kliniknya katanya reschedule ke minggu depan karena salah satu dokter berhalangan hadir ada saudara meninggal. Berliku yaaakk..

Minggu depannya akhirnya pergi juga kesana. Tunggu giliran karena ternyata banyak juga yang mau konsul. Kalau dibilang kebanyakkan anak laki-laki yang terlambat bicara atau ada masalah sama tumbuh kembang rasanya ada benarnya juga karena sebagian besar anak-anak yang gue liat disana itu laki-laki.
Begitu giliran kita tiba, bertiga (gue, suami dan K) masuk ke ruangan kecil sekitar 3 x 2 meter yang di dalamnya sudah menunggu seorang dokter dan seorang psikiater (ini toh yang dinamakan TIM dokter, mungkin bisa diganti namanya jadi DUET dokter aja gimana?). Kita dipersilakan duduk dan K langsung mulai diajak interaksi oleh dokter sedangkan psikiaternya nanya-nanya ke gue dan suami. Agak susah ya ditanya ini itu sambil merhatiin anak lagi disuruh ngapain. Apalagi anaknya sambil agak teriak-teriak.

Gue ga ada foto-foto selama konsul. Sebagai gambaran aja, K disodorin mainan-mainan. Puzzle, blocks, mainan yang bisa dibuka dan ditutup. Tujuannya mungkin untuk ngeliat motorik dan koordinasi mata dan tangannya. Dikasih liat gambar juga dan ditanya misalnya bola yang mana? Bebek yang mana? Terus dikasih pensil dan kertas. Dokternya buat lingkaran, K disuruh niru. Diliat bisa niru apa engga.

Kalau pertanyaannya ya sekitar kebisaan dan kebiasaan sehari-hari.
Sudah ada kata-kata atau gumaman apa yang bisa dia keluarkan.
Kalau makan ngunyah ga
Masih ileran ga
Kalau disuruh ini itu bisa ga
Bisa meniru ga
Kalau mau ini itu dia bagaimana caranya
Bisa nyedot ga
Bisa niup ga
Kalau dipanggil respon ga
Kalau ditanya mama mana papa mana bisa nunjuk ga
Dll

Ada satu kejadian yang masih gue inget banget. Waktu dikasih mainan yang ada tombol pencetan dan kalau dipencet keluar bentuk binatang gitu, dokternya bilang "ayo coba buka.." sambil kasih contoh.
Beberapa kali begitu K belom bisa ngikutin. Dia malah mencoba buka langsung dari tempat binatangnya keluar. Terus gue berusaha ikut terlibat dan bilang "ayo.. itunya dipencet". Dan gue langsung dikoreksi dong sama dokternya. Dia bilang jangan ngomong pencet, tapi buka.
Pencet itu action-nya. Goal kita buka. Kita maunya dia ngerti untuk buka itu ya caranya dipencet. Ya dok, kita mana ngerti ya kalo ga dikasihtau.

Sesi berlangsung sebentar. Mungkin cuma 15 menitan. Menurut gue sih terlalu cepat untuk mengobservasi anak, ya tapi mungkin kalo udah profesional ga perlu lama-lama kali ya ngeliatnya. Mungkin kita orang awam juga ga ngeh kalo apa yang dilakukan itu bagian dari observasi. Verdict-nya K hanya terlambat bicara tapi tetep perlu terapi. Si dokter buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu, sedangkan si psikiater masih sempat mengajari gue untuk melakukan hal-hal seperti :
- menonton tv hanya pagi dan sore masing-masing setengah jam
- dan hanya menonton acara berbahasa indonesia
- kartun ga masalah tapi tetep dibimbing misalnya "itu mickeynya lagi ngapain? Lagi lompat".
- selalu berbicara mengenai hal-hal yang kita lakukan. Misalnya : "K, mama keluar kamar ya. Mama buka pintu, mama matikan lampu, mama pakai sendal. Kita ke dapur yuk, buka kulkas, ambil botol, tuang air ke gelas". Dst
(Intinya dia menyuruh gue untuk tidak berhenti bicara).

Setelah keluar ruangan itu, kembali ke meja resepsionis untuk atur jadwal terapi (kirain gue).
Etapi ternyata sebelum mulai terapi harus melewati yang namanya assesment dulu. Assesment nya beda-beda pula. Kalau menurut dokter, anaknya perlu terapi wicara saja ya assesmentnya untuk terapi wicara saja. Tapi kalau perlu terapi wicara dan terapi sensori integrasi ya assesment nya pun 2 kali. Kebetulan K disuggestnya terapi wicara dan sensori integrasi. Jadwal assesment nya pun acakadut ga bisa sekalian karena tergantung jadwal terapisnya yang kosong kapan. Ribeud deh pokoknya.

Nanti cerita soal assesment di part 2 ya.
Ini udah kepanjangan kayanya.

Oiya untuk biaya konsul TIM dokter yang sebentar itu cukup membuat sakitnyaaa tuh disini.
600ribu saja..

Yukkkkk mariii....

6 comments:

  1. huaaa mahal bener ya..

    hm kayanya nti kalo uda masuk skolah biasanya anak jd lbih pinter ngomong deh, kenny dah skolah belom?

    ReplyDelete
  2. Kalo based on pengalaman kita ama andrew dulu sih yg membantu tuh kalo kita semua ngomong nya 1 bahasa aja. Bhs Indo. Jangan dicampur. Moga2 terapi nya bisa segera berhasil ya...

    ReplyDelete
  3. gw serasa nonton Mocking Jay nih, Na.
    Mana part 2 nyaaaaa
    btw baru tau loh kalo gak boleh ngasih tau "pencet" tapi harus kasih tau "buka"nya.. akan gw praktekan di rumah *manggut2*

    ReplyDelete
  4. semoga terapinya berhasil yah na. :) kenny pasti bisa.

    ReplyDelete
  5. Gw baca tulisan loe kek baca novel menegangkan....dredeg hasilnya gmn yahh ternyata ada season ke 2 nya hahahha, semoga terapinya kenny sukses yaa na dan kenny lancar bicaranya,,,tp memang org tua sering lbng anak cow lbh lama bisa lancar ngmng tp untuk jalan lbh cepet ehheheh,.,semangat yaa na

    ReplyDelete
  6. Jadi tau kalo ga boleh ngomong di pencet, tapi buka.. Konsep nya nih yah yg kudu dipahami. Gw penasaran pen lgsg baca part 2 nya :D *menuju*

    ReplyDelete

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP